Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung: Mekanika untuk Kemanusiaan: Transformasi Ilmu Mekanika Menjadi Teknologi Kesehatan bagi Indonesia

Penulis: Prof. Sandro Mihradi
Reviewer: Prof. Andi Isra Mahyuddin ISBN: - e-ISBN: -

Sinopsis

Mekanika selama ini dikenal sebagai salah satu fondasi ilmu teknik yang mempelajari gaya, gerak, keseimbangan, energi, tegangan, deformasi, dan kegagalan struktur. Namun, prinsip-prinsip tersebut sesungguhnya tidak hanya berlaku pada mesin dan struktur buatan manusia. Tubuh manusia sendiri merupakan sistem fisik yang senantiasa menerima gaya, menghasilkan gerak, menahan beban, mengelola energi, dan mempertahankan keseimbangan.

Dari pemikiran tersebut, orasi ilmiah ini mengajak kita melihat hubungan antara mekanika, biomekanika, dan teknologi kesehatan. Ketika prinsip-prinsip mekanika digunakan untuk memahami sistem biologis, lahirlah biomekanika sebagai pendekatan yang memungkinkan fenomena tubuh manusia dipelajari secara kuantitatif. Gaya, gerak, tegangan, deformasi, energi, dan keseimbangan tidak lagi sekadar konsep dalam ilmu teknik, tetapi menjadi cara untuk memahami bagaimana manusia bergerak, bagaimana cedera terjadi, serta bagaimana fungsi tubuh dapat dipertahankan dan dipulihkan.

Pemahaman tersebut kemudian membawa kita pada pertanyaan berikutnya: bagaimana pengetahuan tentang mekanika tubuh dapat diterjemahkan menjadi teknologi kesehatan?

Dalam rekayasa, persoalan manusia perlu diterjemahkan menjadi parameter yang dapat diukur, dimodelkan, dan dianalisis. Dari proses tersebut lahir desain, purwarupa, pengujian, dan validasi. Perjalanan dari memahami menuju mendesain memungkinkan prinsip-prinsip biomekanika diterjemahkan menjadi berbagai teknologi, mulai dari sistem analisis gerak, pemodelan muskuloskeletal, dan finite element analysis, hingga prostesis, ortosis, lutut prostetik multisumbu, soket prostetik berbasis digital engineering, dan perangkat rehabilitasi.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah purwarupa belum dapat disebut sebagai teknologi kesehatan yang siap digunakan. Teknologi harus melalui proses pengujian dan validasi untuk memastikan keamanan, kinerja, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan manusia. Namun, perjalanan rekayasa tidak berhenti di laboratorium. Teknologi yang telah teruji masih harus menghadapi tantangan produksi, regulasi, implementasi, dan penerimaan pengguna.

Pada tahap inilah teknologi kesehatan mempertemukan berbagai dunia: perguruan tinggi, tenaga kesehatan, industri, pemerintah, regulator, dan masyarakat. Pengalaman pengembangan teknologi pada masa pandemi COVID-19, serta pengembangan berbagai teknologi prostetik dan rehabilitasi, memperlihatkan bahwa inovasi kesehatan membutuhkan kolaborasi sejak identifikasi kebutuhan hingga penerapan.

Dari pengalaman tersebut muncul sebuah prinsip penting: teknologi kesehatan tidak cukup hanya dapat dibuat. Teknologi harus dibutuhkan, aman, dapat diproduksi, dapat digunakan, dapat dipelihara, dan memberikan manfaat. Karena itu, manusia harus tetap menjadi pusat dari seluruh proses rekayasa. Keberhasilan teknologi pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan mekanisme atau performa teknisnya, tetapi oleh kemampuannya meningkatkan fungsi, kemandirian, keselamatan, dan kualitas hidup manusia.

Pertanyaan berikutnya membawa kita pada lingkup yang lebih luas: ke mana teknologi kesehatan Indonesia harus dibawa?

Perkembangan kecerdasan buatan, sensor wearable, robotika, manufaktur aditif, material maju, digital engineering, dan teknologi berbasis data membuka peluang baru bagi perkembangan biomekanika. Teknologi kesehatan masa depan akan semakin personal, adaptif, dan terhubung dengan manusia serta lingkungannya. Namun, kemajuan tersebut perlu disertai kemampuan nasional untuk menghubungkan pengetahuan, kebutuhan klinis, rekayasa, manufaktur, regulasi, dan pengguna dalam sebuah ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, kemandirian teknologi kesehatan tidak berarti bahwa Indonesia harus membuat seluruh teknologi sendiri. Kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk memahami teknologi, mengembangkan pengetahuan dan rekayasa sendiri, menentukan arah inovasi sesuai kebutuhan bangsa, serta memiliki kapasitas untuk memproduksi dan mengembangkannya secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, orasi ini membawa kita kembali kepada makna ilmu pengetahuan dan tanggung jawab perguruan tinggi.

Mekanika memberikan dasar untuk memahami dunia fisik. Biomekanika membawa pemahaman tersebut ke dalam sistem biologis. Rekayasa menerjemahkannya menjadi teknologi. Dan pengabdian memberikan arah agar teknologi tersebut memberikan manfaat bagi manusia.

Dengan demikian, perjalanan dari mekanika untuk memahami perlu dilanjutkan menjadi mekanika untuk menciptakan, dan pada akhirnya mekanika untuk mengabdi.

Sebab, ilmu pengetahuan memperoleh makna yang paling besar bukan hanya ketika mampu menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi ketika pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

UkuranB5
Halamanxvi-104
CoverDoff
Detail

Untuk akses e-book kunjungi link berikut:

https://www.itbpress.id/orasi-ilmiah/

Untuk pemesanan hubungi nomor:

  • (022) 2512532 (FGB ITB)

  • +62-877-8806-6848 (WhatsApp ITBPress)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *