Workshop Menulis Kreatif kembali digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Memasuki pertemuan ketiga dalam rangkaian Triathlon Literasi, kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini menghadirkan Dheka Dwi Agustiningsih, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), untuk membahas puisi melalui tema “Racik Poetik di Bumi Moloku”.
Berbeda dari pertemuan sebelumnya yang membahas proses kreatif dalam penulisan fiksi dan nonfiksi, workshop kali ini mengerucut pada puisi. Peserta diajak melihat bagaimana puisi dapat merekam lanskap sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat, khususnya di Maluku Utara.
Dalam pemaparannya, Dheka menekankan bahwa menulis puisi tidak harus dimulai dari aturan-aturan yang kaku. Menurutnya, dua hal penting yang perlu dimiliki penulis adalah kejujuran terhadap perasaan dan kejelian dalam mengamati lingkungan sekitar.
Untuk membuka diskusi, peserta diajak mengikuti sejumlah pertanyaan interaktif mengenai pengalaman mereka dengan puisi. Dari respons peserta, muncul beragam pandangan, mulai dari puisi sebagai sarana mengekspresikan perasaan hingga anggapan bahwa puisi menarik tetapi sulit dibuat.
Dari sana, Dheka menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan metafora sebenarnya sudah dekat dengan keseharian. Ia mencontohkan bagaimana perasaan dapat digambarkan melalui cuaca, seperti hujan deras, gerimis, atau langit mendung. Pengalaman sederhana pun dapat menjadi bahan puisi selama penulis mampu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Pembahasan kemudian berkembang pada hubungan antara puisi dan realitas. Dheka menjelaskan bahwa karya sastra dapat merekam suatu peristiwa melalui pilihan kata, metafora, dan unsur puitis lainnya. Karena itu, puisi tidak berdiri terpisah dari kehidupan sosial, sejarah, budaya, maupun situasi pada zamannya.
Ia juga mengajak peserta melihat bahwa kepengarangan tidak dibatasi oleh latar belakang profesi atau pendidikan. Banyak penyair dan seniman memiliki profesi lain, tetapi tetap menghasilkan karya yang kuat. Hal tersebut menunjukkan bahwa puisi dapat tumbuh dari ruang hidup siapa saja, selama ada keberanian untuk mengamati dan mengolah pengalaman menjadi bahasa.
Dalam konteks sejarah Indonesia, Dheka menyinggung kolaborasi para seniman dalam menyuarakan semangat perjuangan. Ia juga memperkenalkan perkembangan puisi pada dekade 1970-an yang lebih spontan, oral, satiris, dan dekat dengan budaya populer. Bentuk puisi pun berkembang, termasuk puisi visual yang memanfaatkan huruf, tipografi, dan ruang kosong sebagai bagian dari karya.
Berbagai contoh tersebut memperlihatkan bahwa puisi memiliki kemungkinan yang luas. Bahasa sehari-hari, benda sederhana, pengalaman personal, hingga perubahan sosial dapat menjadi bahan untuk menciptakan karya.
Melalui “Racik Poetik di Bumi Moloku”, peserta diajak melihat Maluku Utara tidak hanya sebagai latar, tetapi sebagai sumber cerita, pengalaman, sejarah, dan kebudayaan yang dapat diolah menjadi puisi. Kekayaan tersebut dapat hadir melalui pengamatan terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari, kemudian diracik menjadi bahasa yang memiliki karakter.
Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian Triathlon Literasi sebagai upaya mendorong lahirnya karya tulis dari Maluku Utara. Setelah mengenal berbagai pendekatan dalam menulis, peserta diharapkan dapat menemukan cara masing-masing untuk mengolah pengalaman dan kekayaan lokal menjadi karya.