Dari Kekayaan Lokal Menjadi Tulisan yang Bersuara

Bagaimana kekayaan lokal Maluku Utara bisa diolah menjadi tulisan yang ‘bersuara’ dan bukan sekadar informasi? Pertanyaan ini menjadi titik berangkat Triathlon Literasi, Workshop Menulis Kreatif bersama Andalusia Neneng Permatasari, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, yang digelar daring pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Neneng mengajak peserta memulai dari hal yang sudah dekat dengan keseharian. Laut, misalnya, bagi orang luar mungkin sekadar pemandangan, tapi bagi masyarakat setempat ia adalah jalan pulang, sumber pangan, dan penghidupan. Perbedaan cara pandang inilah pintu masuk sebuah cerita.

Menurutnya, penulis tak perlu sibuk mencari topik, melainkan menggali kegelisahan dan rasa penasaran. Dari satu benda bisa muncul lapisan cerita: benda, manusia, peristiwa, perasaan, hingga makna. Pasar bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang hidup pedagang. Pala bukan sekadar rempah, tapi warisan pengetahuan petani turun-temurun.

Sebagai contoh, Neneng memakai gohu ikan. Kenapa ikan disajikan mentah? Kenapa cukup diolah dengan jeruk nipis dan minyak panas? Untuk menjawabnya, ia mengenalkan teknik five ways: satu pertanyaan diikuti lima pertanyaan lanjutan hingga sampai ke akar cerita. Dengan cara ini, tulisan bergerak dari objek menuju manusia, sejarah, dan perubahan kehidupan masyarakat. Bagi Neneng, manusia adalah pintu masuk terkuat untuk memahami sebuah tempat.

Cerita juga bisa ditemukan lewat kontras: tradisi versus modernitas, kampung versus kota, warisan versus perubahan. Penulis diajak peka pada apa yang mulai hilang sekaligus apa yang baru tumbuh, sehingga tulisan menjadi dokumentasi atas perubahan yang sedang berlangsung.

Neneng menekankan pentingnya membedakan informasi dan cerita. Informasi membuat orang tahu, cerita membuat pembaca seolah mengalami. Namun mengubah fakta menjadi cerita bukan berarti mengarang fakta baru, di mana penulis boleh memilih sudut pandang, detail, dan metafora, tapi tetap harus jujur pada kejadian.

Di sinilah pentingnya voice: suara yang membuat pembaca tak hanya tahu apa yang terjadi, tapi merasakan cara penulis memandangnya. Proses ini dirangkum dalam empat unsur: look, story, voice, dan reflection. Look memberi material, story memberi struktur, voice memberi karakter, dan reflection memberi makna.

Satu hal yang kemudian bisa disimpulkan dari workshop ini adalah tentang kreativitas yang bukan sekadar cara untuk melihat yang tak dilihat orang lain, tapi melihat kembali yang setiap hari kita lihat, lalu menyadari bahwa di situ tersimpan cerita.

Sebagai catatan, workshop ini adalah bagian dari rangkaian pre-event menuju Spice Islands Triathlon 2026, yang digelar 31 Oktober 2026 di Ternate. ITB Press melibatkan komunitas lokal, khususnya Maluku Utara, agar perhelatan ini juga dirayakan lewat karya tulis, bukan hanya oleh atlet. Sepuluh karya terbaik akan diterbitkan lewat Eazy Publiz, platform penerbitan ITB Press.

Selain Neneng, rangkaian Triathlon Literasi juga menghadirkan tiga pemateri lain: Idhar Resmadi, Dheka Dwi Agustiningsih, serta Alamsyah Nurseha (bidang pendidikan Islam).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *