Apa yang pernah terjadi, layak untuk diingat. Apa yang ingin dikenang, mulailah dengan menulis. Semangat tersebut menjadi bagian dari Triathlon Literasi: Workshop Menulis Kreatif bersama Alamsyah Nurseha yang berlangsung pada Minggu, 6 September 2026. Digelar secara daring melalui Zoom dan terbuka untuk umum, kegiatan ini mengajak peserta melihat pengalaman, ingatan, serta hal hal sederhana di sekitar sebagai sumber cerita yang dapat diolah menjadi tulisan bermakna.
Dalam sesi tersebut, Alam mengajak peserta untuk tidak terburu buru mencari cerita yang jauh atau spektakuler. Menurutnya, setiap orang sebenarnya tidak pernah kekurangan cerita. Yang sering kali diperlukan adalah kemampuan untuk melihat sesuatu dengan lebih dekat. Ia menggunakan analogi kamera untuk menjelaskan proses tersebut. Ketika kamera berada jauh, yang terlihat mungkin hanya sebuah wilayah. Namun ketika kamera didekatkan, muncul desa, rumah, hingga akhirnya manusia dengan kehidupan dan persoalannya. Dari situlah cerita mulai ditemukan.
Menulis, menurut Alam, tidak selalu dimulai dari kemampuan merangkai kata. Kemampuan pertama seorang penulis justru adalah perhatian. Setiap orang memiliki kehidupan dan melihat peristiwa yang sama, tetapi tidak selalu membawa pulang cerita yang sama. Dalam sebuah festival, misalnya, seseorang mungkin melihat keramaian, sementara orang lain memperhatikan pedagang yang sejak pagi belum sempat duduk atau seorang anak yang untuk pertama kalinya tampil membawa kesenian keluarganya. Peristiwa yang sama dapat melahirkan cerita berbeda karena perhatian yang berbeda.
Peserta kemudian diajak bergerak dari melihat menuju mempertanyakan. Sebuah benda sederhana di sekitar dapat menjadi awal cerita ketika diberi pertanyaan. Apa yang berubah? Siapa yang menggunakannya? Sejak kapan? Apa yang terjadi jika benda tersebut tidak ada? Pertanyaan pertanyaan semacam ini membantu penulis masuk lebih dalam dan menemukan kemungkinan cerita dari sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa.
Alam juga mengingatkan bahwa tema seperti budaya, sejarah, pariwisata, olahraga, dan masyarakat masih terlalu luas untuk langsung menjadi gagasan tulisan. Penulis perlu mempersempit sudut pandang dengan melakukan zoom. Dari sebuah objek, muncul pertanyaan, dari pertanyaan, muncul perspektif, dan dari perspektif, lahirlah gagasan.
Hal penting lainnya adalah menemukan manusia di balik sebuah tempat atau peristiwa. Ketika menulis tentang budaya, misalnya, penulis dapat bertanya siapa yang masih menjaganya. Ketika menulis tentang pariwisata, pertanyaannya dapat diarahkan pada siapa yang kehidupannya berubah karena sebuah tempat menjadi destinasi wisata. Dengan memindahkan perhatian dari tempat kepada manusia, tulisan dapat menghadirkan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Pada akhirnya, proses menulis juga perlu sampai pada pertanyaan mengapa sesuatu layak ditulis. Tidak semua hal yang menarik harus menjadi tulisan. Sesuatu yang menarik dapat menjadi awal, tetapi alasan, pertanyaan, dan makna membuat sebuah cerita memiliki arah.
Alam memberikan contoh melalui cerita tentang makanan keluarga. Keinginan menulis tentang makanan mungkin masih terlalu umum. Ketika dipersempit menjadi makanan yang dibuat oleh ibu atau nenek, kemudian ditemukan bahwa resep tersebut semakin jarang dibuat, muncul sebuah alasan untuk menulis. Pertanyaan berikutnya dapat berkembang menjadi mengapa generasi berikutnya tidak lagi tertarik mempelajarinya. Cerita kemudian dapat dilihat melalui pengalaman sang ibu atau nenek. Dari sana muncul sebuah kemungkinan gagasan bahwa kehilangan sebuah resep mungkin juga berarti kehilangan bagian dari ingatan sebuah keluarga.
Melalui workshop ini, peserta diajak memahami bahwa menulis tidak selalu dimulai dari kata. Menulis dapat dimulai dari melihat sesuatu, memberikan perhatian, mengajukan pertanyaan, menggali hal yang belum diketahui, menemukan alasan mengapa hal tersebut penting, kemudian mencari cara agar orang lain dapat melihatnya melalui tulisan.
Triathlon Literasi bersama Alam Syah Nurseha pada akhirnya menjadi ruang untuk melihat kembali hal hal yang dekat dengan kehidupan. Pengalaman, tempat, benda, tradisi, maupun orang orang di sekitar dapat menjadi sumber cerita ketika kita bersedia memperhatikannya lebih lama dan bertanya lebih jauh.
Sebab, mungkin cerita tidak pernah benar benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dilihat lebih dekat, dipertanyakan lebih dalam, lalu dituliskan sebelum ingatan tentangnya berubah atau menghilang.